Mencumbui kata-kata manis yang terucap, tersenyum pada untaian huruf yang menggantung di pelupuk mata
Aku hanya bisa bercumbu dengan bayanganmu yang terpatri jelas di sekat otakku. Aku tak meraihmu, bahkan menyentuhmu barang sesenti saja tidak
Rinduku, kutiupkan bersama angin laut agar sampai di telingamu
Mengharapkan jemarimu membelai rambutku, memimpikan belaian lembutmu ketika dingin menyusupi kalbu
Aku merelakan kebahagiaanku pergi bersamamu, aku rela
Aku menggemakan genderang cita-cita yang kita rajut bersama, aku menyanyikan simfoni mimpi indah yang mungkin saja runtuh dihantam oleh kejamnya ombak
Kadang aku terlalu iri melihat sepasang sepatu yang tak pernah berjauhan, kadang aku marah melihat matahari dan bulan yang selalu ada
Mereka ada, namun dirimu tak ada. Bahkan meski delusiku tentangmu begitu mencanduiku dan menopang jiwaku untuk selalu kuat, aku masih tetap rapuh
Aku tak butuh bayanganmu atau senyummu yang kau kirimkan lewat serat-serat yang tertanam di dalam tanah dan laut.
Aku butuh kau di sini, menemaniku dalam setiap tidur malamku hingga ku lelap. Melihat senyummu yang sewarna dengan matahari terbit setiap pagi
Aku merindukanmu
Ini sudah yang ketiga kalinya ane kalah dalam kompetisi blog. Kecewa, pastinya! Tapi bagaimana lagi? Memang belum rejeki buat ane. Tapi baru kemarin ane sadar kenapa sih ane kok bisa kalah sampai tiga kali? Padahal di Tahun 2012 ane menang dua kali berturut-turut. Lalu ane melongok lagi ke belakang dan cari tahu apa sih yang berubah dari gaya kepenulisan ane?
Eng ing eng, ternyata akhir-akhir ini gaya bahasa ane waktu ikut kompetisi terlalu diatur dan engga mengalir apa adanya. Bahasa ane bersifat eksposisi dengan deskripsi panjang-panjang yang bikin orang bosen. Beda dengan bahasa ane waktu menang tahun lalu yang lebih mengalir dan ane banget.
Maka dari itu, ternyata dengan kekalahan ane ini ane dibuat sadar bahwa meski kita ikut kompetisi jangan sampai gaya kita terlunturkan oleh formalitas. Sepertinya dewan juri lebih suka dengan gaya bahasa asli seorang blogger daripada gaya bahasa formal yang kesannya memang diatur dan diplot sedemikian rupa.
Musikalisasi puisi percobaan pertama
Bagaimana harus kuucapkan pengakuan ini:
Aku jatuh cinta berulang kali pada matamu, danau dalam lautan di negeri ajaib yang menjauh menyelusup dalam ingatan itu.
Berabad-abad yang lalu, kuucapkan selamat tinggal pada apa pun yang berbau dongeng, atau masa silam.
Tetapi cinta, bukan sebotol coca-cola. Atau film Disney di sana tokoh apa pun tak pernah mati. Juga bukan Rumi yang menari.
Sebab pada matamu bertemu semua musim sejarah, dan sesuatu yang mengingatkan aku pada suatu hari ketika waktu berhenti, dan kusapa engkau mesra sekali.
Kini, bahkan wajahmu samar kuingat kembali.
Haruskah kuucapkan pengakuan ini:
Aku jatuh cinta berulang kali pada matamu, danau dalam hutan di negeri ajaib yang jauh menyelusup dalam ingatan itu. Tetapi cinta, bukan sekotak popok kertas.
Atau sayap sembilan puluh sembilan burung Attar yang terbakar.
Cinta, barangkali, kegagapanku mengecup sepasang alismu.
by Cecep Syamsul Hari