Romantic Munich - Part IV

EMPAT

            “Apa kabar Bonbon?” tanya Toni dari seberang telepon ketika Elaine usai mengerjakan tugas dan berbagai paper dari dosennya.

            “Aku lelah,” jawab Elaine singkat. Dia memang merasa lelah tapi dia enggan menolak telepon dari lelaki yang tengah dirindukannya.

            “Aku meneleponmu di saat yang tidak tepat ya?” tanya Toni agak merasa bersalah. Elaine menggeleng, dia melepas kacamatanya.

            “Bukan, tidak apa-apa kamu menelepon. Aku senang mendengar suaramu.” Sergah Elaine.

            “Aku hanya mengabarkan sebenarnya aku akan pulang tapi tidak jadi, saat ini aku telah berada di Jerman. Aku lupa kalau jadwal klub kami semakin padat setelah kami lolos Liga Champion. Padahal aku akan mengenalkanmu pada Jerome.”  Tukas Toni. Elaine melengos, kenapa kamu tidak sadar sih kalau sebenarnya aku menyukaimu bukan teman sekamarmu itu.

            “Tidak apa-apa. Kalau kau memang sibuk tidak perlu repot-repot mengurusiku. Aku sudah dewasa, aku dapat mengurusi diriku sendiri.” Sahut Elaine, dia hanya tidak ingin membebani pikiran Toni.

            “Aku tidak merasa direpotkan, lagipula alasan utamaku bukanlah untuk mencomblangimu dengan Jerome. Saat ini aku merindukanmu dan aku ingin bertemu denganmu, itu saja.” Pipi Elaine tiba-tiba terasa panas, jantungnya bekerja dua kali lebih cepat.

            “Aku sangat memahami kau merindukanku, Blondine. Onkle dan Tante juga merindukanmu.” Alih-alih menanggapi kata-kata Toni dengan kenyataan sesungguhnya, Elaine justru mengabaikan perasaannya. Dia tak mampu mengungkapkan perasaannya pada Toni secara gamblang.

            “Aku juga merindukan Mam dan Pap,” sahut suara baritone di seberang sana. Toni mengira perasaannya tak berbalas.

            “Selamat malam kalau begitu, Bonbon. Jaga kesehatanmu dan semangat selalu ya.”

            “Kau juga. Ingat, aku adalah pendukungmu yang ada di garis depan. Aku adalah fans nomor satumu.” Elaine mengobarkan kembali semangat dalam diri Toni. Hanya saja, Toni terlanjur sedikit kecewa dengan sikap Elaine yang lempeng-lempeng saja terhadapnya. Mungkinkah Elaine tidak memiliki perasaan apapun kecuali sebatas rasa mengasihi seorang sahabat?

            “Selamat malam.” Tutup Elaine.

***

           

Read More

Romantic Munich Part III

TIGA

            “Selamat jalan Nak,” ujar George melepas kepergian anaknya di bandara Peenemeunde, 54 kilometer ke Timur dari Greifswald.

Toni memeluk Ayahnya kemudian Ibunya, kedua orang tuanya tersenyum bahagia melihat anaknya akan berjuang sebagai pemain sepak bola professional di salah satu klub raksasa negara mereka. Elaine tak luput dari pelukan Toni, Elaine balas memeluk Toni erat.

            “Baik-baik di sini bersama Mam dan Pap ya, jangan lupa sempatkan waktu untuk ngobrol denganku entah lewat telepon atau video call.” Pesan Toni pada gadis mungil itu. Alih-alih mengangguk dan menjawab “Ya” Elaine justru menggoda Toni.

          

Read More

Romantic Munich - Part II

DUA

            Elaine menemani Toni jogging pagi itu. Masih ada waktu lima hari baginya dan Toni untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Toni berangkat ke Munich. Elaine yang pada dasarnya orang tropis tetap kedinginan meski telah mengenakan union suit berlapis-lapis.

            “Apa aku berlari terlalu cepat?” tanya Toni melambatkan ritme larinya. Elaine sendiri hampir tak mampu lagi menjejakkan kakinya untuk berlari mengikuti Toni.

            “Tidak, hanya saja aku kedinginan.” Toni berhenti sejenak sementara Elaine masih berusaha berlari kecil dengan menyilangkan kedua lengan di dadanya untuk menghalau rasa dingin. Elaine menggembung-gembungkan pipinya persis seperti ikan dengan harapan dingin yang semakin menjadi berubah menjadi sedikit lebih hangat.

            “Pakai ini,” ujar Toni yang tiba-tiba menyusul Elaine dari belakang. Toni memasangkan jaket training yang dikenakannya ke tubuh Elaine. Kini Toni hanya mengenakan kaos lengan panjangnya dan meneruskan berlari.

            “Toni, apa kamu tidak kedinginan?” Elaine cepat-cepat menyusul Toni yang jangkauan larinya lebih lebar.

            “Aku kan orang Eropa, bonbon tidak seperti kamu. Aku lebih dapat menahan dingin, lagipula aku kan pesepak bola.” Jawabnya lugas, Toni memberi bonus cengiran yang menampilkan gigi putihnya yang tidak rata itu pada Elaine.

            “Danke schon, kadang kamu baik kepadaku ya.” Goda Elaine, dia menyikut rusuk Toni.

Read More

Romantic Munich - Part I

Prolog

            Aku turut gembira melihat senyum yang terkembang di bibirnya. Dia berhasil mencapainya, Piala Dunia keduanya sejak dia bergabung di skuad Timnas sejak era reformasi tim. Aku turut bangga padanya meski aku tak dapat meraihnya seperti empat tahun lalu. Di hari kemenangannya ini sesungguhnya aku ingin menghambur ke pelukannya, menunjukkan padanya bahwa aku benar-benar mendukungnya dalam situasi apapun.

            Dia berselebrasi bersama rekan satu timnya. Mereka menari-nari di atas rumput hijau di Stadion megah tempat final Piala Dunia yang dilakoninya dihelat. Piala Dunia memang pencapaian puncaknya setelah beberapa bulan lalu dia meraih Piala ajang bergengsi di Benua Biru bersama klubnya. Dia memang laki-laki yang hebat dan berbakat.

            Confetti bertaburan begitu dia dan timnya menjejak panggung, Sang Kapten mengangkat tinggi-tinggi piala berbalut emas yang berbentuk Bumi diusung beberapa orang dengan tangan terangkat ke atas. Dia tampak begitu berkilauan mengenakan medali emas juara. Sayangnya, cameraman tidak melulu meliput wajahnya. Sesekali aku melihat rekan setimnya yang tak kalah berbakat dari lelakiku ini. Tapi tetap saja, lelakiku adalah man of the match di laga final ini jadi imbasnya wajahnya senantiasa tersorot kamera.

            Aku menyesap coklat panasku dan masih bergelung di bawah selimut untuk merayakan kemenangannya di depan layar kaca. Aku akan menunggu beberapa menit lagi untuk melakukan panggilan padanya dan mengucapkan “Glückwunsch Schatz, hast du eine wirklich gute Arbeit heute Abend[1]”.

            Sepersekian detik setelah aku melamunkan apa yang akan kulakukan beberapa menit ke depan, telepon selulerku berbunyi.

            “Hallo,”

            “Danke für die unterstützung, ich liebe dich.[2]” Dan dia menutup teleponnya.

Read More

Ayah Durhaka

“Biarkan saja dia menempuh hidupnya sendiri, dia sudah dewasa, dia mampu membuat keputusannya sendiri.” Sindir Ayah yang suaranya perlahan menghilang ditelan hujan. Aku memeluk tasku erat-erat dan mempercepat langkahku pergi dari rumah terkutuk itu. Sejak hari itu aku berjanji pada diriku sendiri aku tak akan kembali satu langkah pun ke rumah diktator tua itu. Tidak akan!

***

            (more…)

View On WordPress

Rekan Imajinasi

Rekan Imajinasi

“Aku ingin semua gambarku hidup dan menjadi temanku”

Aku ingat saat aku masih menjadi seniman asal-asalan, aku menggambar sekenanya dan tidak peduli bagaimana bentuk makhluk yang aku gambar. Aku menggambar makhluk dengan mata yang terletak di hidung dan mulut terletak di telinga dan semacam itulah. Aku menggambar apapun yang fantasiku perintahkan pada tanganku. Aku menggoreskan pensil di atas…

View On WordPress